Jakarta – PT Multi Harapan Utama (MHU) anak usaha dari MMSGI, kembali mendapat apresiasi atas kontribusinya dalam mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional. MHU meraih penghargaan Impactful Program Awards pada ajang Investortrust CSR Awards 2026 yang digelar di Habitate, Oakwood, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas pendekatan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) MHU yang tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi diarahkan untuk menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang terukur serta membangun kemandirian masyarakat.
Empat inisiatif yang menjadi bagian dari pendekatan tersebut antara lain Air Bersih Pascatambang melalui Pompa Hydram, Penguatan BUMDes Payang Sejahtera, Penguatan KUBE Koetai Harapan Utama, serta Rumah Cokelat Lung Anai. Keempat program tersebut memperlihatkan bagaimana MHU mengembangkan potensi yang berbeda di masyarakat—mulai dari pemanfaatan aset pascatambang, penguatan institusi ekonomi desa, peningkatan keterampilan, hingga hilirisasi komoditas lokal.
Presiden Direktur MHU Kemal Djamil Siregar mengatakan, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak semata-mata diukur dari besarnya investasi yang diberikan perusahaan, tetapi dari perubahan yang dapat terus berlangsung dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Bagi kami, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat bukan hanya dilihat dari berapa besar dukungan yang diberikan perusahaan, tetapi dari perubahan yang dapat terus berjalan setelah program dilaksanakan. Karena itu, kami ingin memastikan masyarakat memiliki akses, kemampuan, dan kelembagaan yang dapat tumbuh secara mandiri,” ujar Kemal.
Void Pascatambang Menjadi Sumber Air Bersih
Salah satu program tersebut adalah Air Bersih Pascatambang – Pompa Hydram di Desa Sungai Payang, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Melalui program ini, MHU mengubah kolam atau void pascatambang menjadi sumber air bersih bagi masyarakat. Teknologi Pompa Hydram digunakan untuk mengalirkan air dengan memanfaatkan energi kinetis air sehingga tidak membutuhkan listrik maupun bahan bakar.
Infrastruktur tersebut terdiri dari tiga unit Pompa Hydram, dua unit hydropur dan Water Treatment Plant (WTP) berkapasitas 126 meter kubik. Jaringan distribusinya mencapai lebih dari 3,6 kilometer dan melayani tiga dusun, yakni Donomulyo, Sentuk dan Rempanga. Secara keseluruhan, program ini telah memberikan akses air bersih kepada 582 kepala keluarga masyarakat sekitar tambang. Pengelolaan fasilitas juga melibatkan BUMDes Payang Sejahtera sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut mengambil peran dalam keberlanjutan program.
“Kami tidak hanya melihat void sebagai bagian dari proses pascatambang, tetapi sebagai aset yang dapat dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat,” kata Kemal.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa proses pascatambang dapat diarahkan untuk menghasilkan manfaat sosial yang berkelanjutan, sekaligus menjawab kebutuhan dasar masyarakat di sekitar wilayah operasi.
BUMDes Tumbuh, Omzet Naik dari Rp4,6 Miliar menjadi Rp27,6 Miliar
Dampak pemberdayaan juga terlihat melalui Program Penguatan BUMDes Payang Sejahtera, yang telah berjalan sejak 2017. MHU mendorong BUMDes tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi membangun ekosistem usaha yang mampu berjalan secara mandiri. Pengembangan dilakukan melalui pemetaan potensi lokal, pembinaan, pengembangan unit usaha dan dukungan permodalan.
Sejumlah unit usaha yang berkembang meliputi katering, laundry, housekeeping, pabrik kompos, hingga pengelolaan layanan air bersih melalui WTP. Dampaknya tercermin pada peningkatan omzet BUMDes Payang Sejahtera dari Rp4,6 miliar pada 2019 menjadi Rp27,6 miliar pada 2023, dengan nilai Social Return on Investment (SROI) 4,27.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi dapat menghasilkan efek berantai ketika masyarakat memiliki kelembagaan yang mampu mengelola dan mengembangkan potensi ekonomi secara mandiri.
“Target kami bukan membuat masyarakat bergantung pada perusahaan, tetapi membangun institusi ekonomi desa yang mampu berdiri dan berkembang secara mandiri,” ujar Kemal.
Dari Keterampilan Lokal Menjadi Usaha yang Menembus Pasar
Pendekatan serupa diterapkan melalui KUBE Koetai Harapan Utama di Dusun Berhala, Desa Loa Kulu Kota. Kelompok pertukangan kayu tersebut sebelumnya menghadapi keterbatasan peralatan produksi, kualitas produk dan akses pasar. MHU kemudian memberikan pelatihan, pendampingan serta dukungan peralatan yang lebih modern bersama sejumlah mitra.
Perubahan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan produksi. Pada 2019, kelompok tersebut mulai mendapatkan pembinaan dari pemerintah daerah dan dipercaya memasok meja dan kursi untuk sekolah-sekolah di Kutai Kartanegara. Program tersebut mencatat SROI 5,23, menunjukkan nilai sosial yang dihasilkan dari investasi pemberdayaan tersebut.
Rumah Cokelat Lung Anai: Menggerakkan Ekonomi dari Hulu hingga Hilir
Program lain yang memperlihatkan bagaimana potensi lokal dikembangkan menjadi rantai ekonomi bernilai tambah adalah Rumah Cokelat Lung Anai di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu. Program yang diinisiasi MHU ini mengembangkan potensi perkebunan kakao masyarakat adat Dayak Kenyah dengan pendekatan hilirisasi. Jika sebelumnya kakao lebih banyak dijual dalam bentuk biji dengan nilai ekonomi terbatas, masyarakat kini didorong mengolahnya menjadi produk bernilai tambah seperti cokelat batangan dan bubuk kakao.
Program ini melibatkan Kelompok Tani Lalut Isau, BUMDes, Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara, Yayasan Peduli Desa Nusantara Madani dan Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara. MHU juga memberikan dukungan terhadap fasilitas pengolahan, termasuk rumah pengering dan mesin pengolahan kakao.
Dampaknya mulai terlihat dari peningkatan nilai ekonomi komoditas. Lebih dari 100 petani mengalami peningkatan pendapatan hingga lima kali lipat, dengan harga kakao kering fermentasi mencapai Rp120.000–Rp150.000 per kilogram, dibandingkan sekitar Rp25.000–Rp30.000 per kilogram untuk biji basah sebelumnya. Pada sisi hilir, keterlibatan perempuan juga semakin kuat. Sebanyak 12 perempuan lokal telah terlibat dalam aktivitas pengolahan, membuka ruang ekonomi baru sekaligus memperkuat peran perempuan dalam rantai nilai komoditas kakao.
Rumah Cokelat Lung Anai juga berkembang sebagai pusat pelatihan budidaya dan pengolahan kakao sekaligus destinasi agrowisata. Produk yang dihasilkan telah memiliki legalitas SPP-IRT dan NIB, sementara Balai Besar POM di Samarinda turut memberikan pendampingan agar produk dapat berkembang menuju pasar modern.
Rangkaian program tersebut menjadi bagian dari pendekatan MHU dalam menjalankan PPM yang terintegrasi dengan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dan Good Mining Practice.
Bagi MHU, keberadaan perusahaan di tengah masyarakat tidak hanya diukur dari aktivitas operasional, tetapi juga dari kemampuan perusahaan untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan masyarakat berkembang bersama. Kemal menegaskan, pendekatan tersebut akan terus menjadi bagian dari arah keberlanjutan MHU.
“Kami percaya program sosial yang baik harus meninggalkan kemampuan, bukan ketergantungan. Masyarakat harus menjadi pelaku utama dari perubahan yang terjadi di wilayahnya. Peran perusahaan adalah membuka akses, memperkuat kapasitas, dan membangun ekosistem agar manfaat tersebut dapat terus berkembang,” tuturnya.
Pada akhirnya, empat program tersebut membawa satu pesan yang sama: aset pascatambang dapat menjadi akses kebutuhan dasar, kelembagaan desa dapat menjadi penggerak ekonomi, keterampilan lokal dapat berkembang menjadi usaha berdaya saing, dan komoditas pertanian dapat dihilirkan menjadi sumber pendapatan baru.

Leave a Reply